Alasan Beberapa Wanita Masih Sulit Mengiyakan Ajakan Untuk Menikah

Hubunganku denganmu memang diisi dengan canda tawa, namun hal itu tak membuat keseriusan di antara kita menghilang. Saat memutuskan untuk merajut tali kasih, baik kamu dan aku pun tahu bahwa suatu saat nanti kita akan menikah. Entah itu kapan, tapi komitmen yang dipegang sejak awal kian terjaga.

Seringkali kamu mendengar lebih banyak kaum sejenismu yang enggan untuk segera menikah dibanding kaumku. Masyarakat menilai kaumkulah yang seperti memohon-mohon untuk menyegerakan pernikahan, sedangkan di mata mereka kaummu yang menunda karena butuh persiapan yang matang. Persiapan yang katanya tak akan ada hentinya, selalu saja ada yang kurang. Tapi aku sudah mantap memutuskan,

Aku tak seperti wanita kebanyakan. Ketika dirimu telah siap membangun rumah tangga, maaf saat ini aku belum bisa mengiyakan. Kenyataannya masih terdapat beberapa hal yang mengganjal hati. Sulit untuk dijelaskan, karena mungkin menurutmu tak rasional. Jika melalui lisan kamu sulit menerima, melalui tulisan ini mungkin bisa membuatmu mengerti. Semoga dan semoga…

Menikah itu tak sekedar dilandasi rasa cinta dan kasih sayang semata, tapi kemauan berjuang dalam mewujudkan rumah tangga impian bersama. Situs Judi Online Terpercaya

Umurku semakin dewasa dan membawa cukup banyak perubahan pada pola pikirku saat ini. Dulu mungkin memandang pernikahan sangatlah indah yang penuh senda gurau bersama orang terkasih, ternyata sekarang tak demikian. Beberapa kejadian yang dialami orang-orang sekitar telah membuat mata dan hatiku terbuka pada apa arti pernikahan sebenarnya. Menikah tak selalu tentang rasa cinta dan kasih sayang semata, tapi bagaimana cara aku dan kamu membangun kedua rasa memiliki sampai akhir, yang sebelumnya dipenuhi dengan berbagai ujian dalam menjalaninya.

Aku tahu kita berdua mempunyai deskripsi masa depan keluarga impian, kita pun sudah sering membicarakannya. Namun lagi-lagi, banyak yang perlu dipersiapkan tak hanya soal kemapanan harta dan fisik, tapi juga mental. Karena menikah, tak sesederhana itu.

Menikah bukan hanya urusan kita berdua. Kita pun harus sama-sama berusaha untuk menyatukan dua keluarga.

Cinta dan rasa sayang yang kita berdua miliki akan semakin terasa dan tergali ketika menikah. Ya, pernikahan bukan sekadar ujian coba-coba, tapi ujian nyata yang akan kita lalui dan harus terlewati dengan sebuah penyelesaian. Di balik itu semua, kamu dan aku tak akan berjalan dan melakukan segalanya berdua saja. Karena sebenarnya, ada keluarga dan teman-teman yang akan mengisi hari-hari kita bersama. Mungkin tak setiap hari, tapi keberadaan mereka yang jarang ini kadang membawa guncangan pada pernikahan kita.

Ketidaksamaan prinsip atau pemikiran sering menimbulkan prahara di antara keluarga. Saat keluargamu berkata A, keluargaku berkata B. Ketika temanmu berkata X, temanku berkata Y. Mereka memang tak mencampuri semua hal pernikahan kita, namun keberadaan dan saran-saran yang mereka berikan saat hubungan kita dilanda masalah ada kalanya menimbulkan masalah bagi kita berdua. Bagaimanapun juga, mereka adalah orang-orang yang akan kita datangi untuk meminta saran jika sedang membutuhkan.

Hal ini membuat aku dan kamu harus beradaptasi dengan mereka. Demikian pula mereka yang harus saling beradaptasi dan saling memahami satu sama lain. Aku khawatir tentang hal ini, hal di mana aku tak mampu mengakrabkan diri dengan keluarga dan teman-temanmu. Atau bahkan keluarga dan teman-teman kita yang tak bisa beradaptasi dengan baik. Aku menyangsikan hal itu dan sepertinya memang butuh waktu dan proses.

Kadang, muncul rasa ragu dalam diriku. Ada rasa segan mengingat kelebihanmu, namun muncul rasa enggan karena kekuranganmu.
Kamu itu terlalu sempurna buat aku. Enam kata tersebut mungkin pernah terucap olehku ketika kita berdua sedang berjalan bersama. Aku jujur mengatakannya karena begitu saja 6 kata tersebut terucap dari bibir. Ya, kamu terlalu sempurna untukku karena tak hanya wajah dan kepandaian saja, tapi juga sifat dan sikapmu yang membuatku tercengang melihatnya. Meskipun kadang kamu terlalu cuek dan kurang peka, tapi bagiku kamu tetap sempurna. Hal ini yang terkadang sukses membuatku bingung.

Namun, aku pun juga pernah berpikir apakah benar akan melanjutkan sisa hidup di kemudian hari bersama dengan dirimu? Bersama dirimu yang memiliki kekurangan dan kadang sulit untuk menerimanya? Meskipun kamu memiliki banyak kelebihan yang mampu menutupi kekuranganmu, namun tetap saja keraguan itu terkadang muncul. Ya, aku ragu karena kelebihan dan kekurangan yang kamu miliki. Pertanyaan ini sering berputar-putar dalam pikiranku: Apakah aku mampu hidup dengan seseorang dengan kelebihan dan kekurangan seperti itu? Rasa segan akan kelebihan dan hati yang sulit menerima kekuranganmu ini hingga sekarang belum hilang.